Kisah Syeikh Abd al-Qadir Jilani dan para perampok

Kisah Syeikh Abd al-Qadir Jilani dan para perampok

Suatu hari, diawal 'Id al-Adha, Syeikh Abd al-Qadir Jilani pergi ketanah ladang untuk membantu hingga turun ke ladang. Karena Beliau berjalan dibelakang kawanan sapi, sapi-sapi itu menoleh kepalanya kearah Syeikh dan berkata "Engkau tidak diciptakan untuk (melakukan pekerjaan) seperti ini. Syeikh Abd al-Qadir Jilani sangat takut dan lari kerumah serta naik ke atas genting rumahnya. Saat Syeikh menerawang lepas, dia menyaksikan para jemaah haji tengah berkumpul di padang Arafah, Saudi Arabia, tepat dihadapannya.
Syeikh Abd al-Qadir Jilani mencari ibunya, seorang ibu yang kemudian menjanda, dan memohon kepadanya "Kirimkan aku untuk mencari kebenaran, berilah aku izin untuk berangkat ke Bagdad untuk mencari ilmu, bersekutu dengan orang-orang bijak dan dengan orang-orang yang sangat dekat kepada Allah SWT. Ibunya menanyakkan alasannya apa yang membuatnya tergesa-gesa mengambil keinginan itu. Syeikh Abd al-Qadir Jilani menceritakan kepada ibunya tentang apa yang telah terjadi padanya. Ibunya menangis lalu dia mengeluarkan delapan puluh keping emas, yang merupakan hartaa peninggalan ayah Syeikh Abd al-Qadir Jilani sebagai warisan. Ibunya menyisihkan empat puluh keping untuk saudara Syeikh Abd al-Qadir Jilani. Empat puluh keping lainnya dia masukkan kedalam mantel Syeikh Abd al-Qadir Jilani. Kemudian mengizinkan Syeikh Abd al-Qadir Jilani untuk segera berangkat tetapi sebelumnya dia meminta Syeikh untuk teguh berjanji agar Syeikh tetap bersikap jujur dan berada dalam kebenaran, dalam kondisi bagaimanapun. "Mudah-mudahan Allah SWT melindungi dan memberi petunjuk padamu, anakku. Aku rela berpisah dengan anakku yang paling aku sayangi demi Allah SWT. Aku tahu bahwa aku tidak akan melihatmu sampai hari pengadilan tiba".
Syeikh Abd al-Qadir Jilani pergi bersama rombongan kecil menuju Bagdad. Setelah rombongan meninggalkan kota Hamadian, gerombolan penjahat bersenjata, enam puluh penunggang kuda yang kuat-kuat, menyerang rombongan Syeikh Abd al-Qadir Jilani. Mereka merampas apa saja yang rombongan punya. Salah seorang diantara mereka mendekati Syeikh Abd al-Qadir Jilani dan bertanya "anak muda, apa yang kamu punya?". Syeikh katakan padanya bahwa dia punya empat puluh keping emas. Dia bertanya "Dimana?" "Dibawah ketiak bajuku" Jawab Syeikh. Perampok itu tertawa dan meninggalkan Syeikh sendirian. Penjahat yang lain juga mendekati Syeikh dan menanyakan hal yang sama dan Syeikh menjawab dengan sebenarnya. Penjahat itu juga meninggalkannya. Mereka pasti menceritakan kejadian ini pada pemimpin mereka, karena mereka memanggil Syeikh Abd al-Qadir Jilani untuk duduk ditempat pembagian hasil rampokan. Lalu dia bertanya pada Syeikh apakah Sheikh memiliki barang-barang berharga. Syeikh Abd al-Qadir Jilani katakan padanya bahwa dia mempunyai empat puluh keping emas kecil yang dijahit dibawah ketiak Syeikh. Penjahat melepaskan jaket Syeikh dan merobek lengannya dan menemukan emas itu. Kemudian dengan terkejut penjahat bertanya pada Syeikh "Kapan kamu menyimpan uangmu, apa yang mendorong kamu tetap bersikukuh mengatakan bahwa kamu mempunyai uang dan dimana ia sembunyikan. Syeikh Abd al-Qadir Jilani menjawab "Aku harus berkata jujur pada kondisi apapun, seperti apa yang telah dijanjikan ibuku". Ketika pemimpin para perampok mendengar jawaban Syeikh, dia mengucurkan air mata dan berkata "Aku telah mengingkari janjiku pada Tuhan yang telah menciptakan aku. Aku biasa mencuri dan membunuh. Nasib buruk apa yang bakal terjadi padaku?". Dan anak buah penjahat yang lain, sambil memperhatikannya, berkata "Engkau telah menjadi pemimpin kami selama bertahun-tahun dalam perbuatan dosa. Sekarang engkau juga menjadi pemimpin kami dalam penyesalan". Enam puluh perampok memegang tangan Syeikh Abd al-Qadir Jilani dan mengatakan penyesalannya serta mengubah jalan hidup mereka. Enam puluh penjahat tersebut merupakan kelompok pertama yang memegang tangan Syeikh Abd al-Qadir Jilani dan meminta maaf atas kesalahan-kesalahan mereka.
Kisah Syeikh Abd al-Qadir Jilani dan para perampok Kisah Syeikh Abd al-Qadir Jilani dan para perampok Reviewed by Johan Akhmadin on Monday, August 31, 2015 Rating: 5
Powered by Blogger.